Cara Membuka Tabir (Hijab) Yang Membatasi Diri Dengan Tuhan

Caratotal.com - Bertemu dengan Allah sang pencipta seluruh alam adalah hal yang di impikan oleh setiap orang namun bagi sebagian besar manusia hal tersebut adalah hal yang tidak mungkin, akan tetapi bagi kaum shufi hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil jika Allah mengijinkan. Bagi kaum shufi, yang membatasi kita dengan Allah adalah Tabir/Hijab yang hanya bisa tersingkap dengan cara membina diri pribadi agar kita layak untuk bertemu dengan Allah.

1. Perbaikan Akhlak

Dalam usaha menyingkap tabir/hijab yang membatasi diri dengan Tuhan, oleh Kaum Shufi/Tasawwuf telah membuat suatu sistim yang dinamakan: Takhalli, Tahalli, Tajalli (yang nanti akan diterangkan) dimana sistim tersebut dipakai dalam Riadhah/latihan dan mujahadah/berjuang untuk mensuci bersihkan diri dari segala sifat-sifat yang tercela dan menghiasinya/membina diri dengan segala sifat-sifat yang terpuji dalam rangka mencapai "maqam" yang lebih tinggi, dengan kata lain memperbaiki akhlak. Dalam bukuKimyaus-Saadah Al-Ghazali berkata,"Bahwa tujuan perbaikan akhlak itu, ialah untuk membersihkan qalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur Cahaya Tuhan".

Dinding/hijab yang membatasi diri dengan Tuhan ialah hawa nafsu kita sendiri. Dalam usaha menghilangkan hijab/dinding itu, kaum shufi mengadakan latihan-latihan dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi yang pada akhirnya dapat mempersatukan dirinya dengan Tuhan. Firman Allah dalam Al-Quran (S.Al-Kahfi 110).

"Maka barang siapa menghadap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh (memperbaiki akhlak) dan janganlah ia mempersekutukan apapun dalam beribadah kepada Tuhan (Bersih dari segala kotoran-kotoran hawa nafsu".

Maka untuk mencapai tujuan "Liqa" itu membutuhkan latihan-latihan dan perjuangan, perjuangan untuk mensuci bersihkan diri, perjuangan memperbaiki akhlak secara terus-menerus dan dalam menyembah Tuhan terus-menerus sampai akhir hayat.

Firman Allah dalam Al-Quran (S.Al-Hijr 99):
" Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu yang diyakini (ajal)".

Maka yang dapat menghayati kita dalam pekerjaan-pekerjaan seperti itu adalah "sabar".


2. Sabar

Menurut Al-Ghazali, yang dinamakan "sabar" ialah meninggalkan secala macam pekerjaan yang digerakkan oleh hawa nafsu, tetap pada pendirian agama yang mungkin bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semata-mata karena menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bahwa sabar itu merupakan jihad/perjuangan untuk menghadapi hawa nafsu untuk kembali pulang pada tuhan.

Dalam menghadapi keadaan seperti itu, maka sifat sabar menjadi berat. Firman Allah dalam Al-Quran (S.Al-Baqarah 45,46).

"Jadikan sabar dan Shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu adalah tugas berat, kecuali bagi orang yang khusyu'. Orang-orang yang khusyu itu ialah orang yang menyukai bahwa mereka itu akan bertemu dengan Allah dan bahwa mereka akan kembali kepadanya".

Maka demikian beratnya sifat sabat itu, sehingga merupakan suatu sifat yang istimewa yang hanya dapat dikerjakan bagi orang-orang yang khusyu'. Dan orang-orang khusyu itulah yang benar-benar mempunyai keyakinan yang kuat, niat yang ikhlas, itikad baik tujuan yang benar dan dengan penuh kesabaran mereka metaati peraturan agama berupa perintah atau larangan, dengan rasa berkewajiban moral dalam melaksanakannya dan menyelesaikannya.

Ahli filsafat mengatakan bahwa dengan ilmu saja tidak cukup untuk meletakkan dasar yang utama bagi suatu kelebihan. Tanpa kesabaran maka tak akan dapat mentaati suatu peraturan berupa perintah atau larangan agama. Namun sudah tahu betul bahwa maksiat itu larangan, kebaikan itu perintah, jika tidak dengan kesabaran, tidak mungkin dapat dikerjakan. Oleh karena itu kaum Shufi memberi perincian tentang "sabar" sebagi berikut:

a. Sabar Disiplin/Taat

Manusia yang tersendiri menghadapi banyak pengawasan atas dirinya dalam suatu tugas kewajiban, oleh karena itu maka taat dalam suatu tugas kewajiban sifat sabar menjadi penolong dan pengawas utama.

Dalam pada ini kaum Shufi tentang sabar mempunyai tiga keadaan:

  1. Pertama : Sabar sebelum taat, yaitu niat yang ikhlas, tujuan yang benar, merasa berkewajiban atas keyakinan Agama dalam menerima peraturan berupa perintah atau larangan.
  2. Kedua: Sabar melaksanakan taat, ialah melaksanakan kewajiban sampai selesai, berkala atau terus-menerus dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan.
  3. Ketiga: Sabar setelah taat, ialah tidak merasa bangga dengan selesainya pekerjaannya, tidak iri hati atas kekurangan atau kelebihan orang lain, tidak ria untuk dikagumi hasil usahanya.
b. Sabar Berkewajiban

Mengetahui sesuatu kewajiban saja tidak cukup untuk dapat dikerjakan tanpa adanya kesabaran dan sebaliknya mengetaui sesuatu larangan belum tentu dapat meninggalkannya tanpa adanya kesabaran. 

Misalnya dalam melaksanakan ibadah seperti: shalat, puasa, zakat, dan haji sangat memerlukan kesabaran. Mengerjakan shalat 5 kali sehari adalah mendidik diri pribadi membiasakan "sabar" menjadi kebiasaan sehari-hari menjalankan kewajiban Agama menuntut ke ridhaan Allah. Sabar dan Shalat banyak mengandung hikmah antara lain: taat, patuh, setia, bertanggung jawab, menepati janji, menghargai waktu jujur, bertaqwa kepada Allah. Sifat-sifat seperti ini, adalah sifat-sifat yang terpuji dan apabila sifat-sifat seperti itu menjadi kebiasaan dalam melakukan tugas-tugas kewajiban dalam pembangunan duniawi, maka akan sangat berguna dipakai dalam membina manusia pembangunan dalam hal mana pembangunan akan lebih sukses.


c. Sabar Dalam Beberapa Bagian:

Menurut ajaran Shufi, maka "sabar" itu terbagi menurut hukum yaitu:
  • Sabar yang dilakukan untuk menjauhkan diri dari  segala hal yang haram hukumnya adalah "wajib".
  • Sabar yang dilakukan untuk menjauhkan diri dari segala pekerjaan makruh hukumnya "sunnah".
  • Sabar dalam menjalankan hukuman karena pelanggaran maka itu hukumnya "harus"
  • Sabar membela kehormatan atau hak milik, maka hukumnya itu haram. Jadi sifat  sabar dalam keadaan seperti ini disebut "sabar sajaah" sabar berani.
Itulah namanya "sabar" menjalankan dan mentaati hukum Tuhan, seperti berjuang atas jalan Allah. Mati dalam perjuangan itu adalah mati syahid. Berjuang untuk mempertahankan kesucian Agama Allah, kemerdekaan tanah air, keselamatan diri dan keluarga, keamanan harta milik, melawan musuh, memberantas kedzaliman dan lain-lain yang bersifat amar ma'ruf dan nahi mungkar. Melakukan sabar pada ketika itu dinamakan sabar berani. Sifat sabar dalam keadaan seperti itu semakin tambah berat dan sulit, tetapi mulia.

Khalid Bin Walid (Panglima Perang Muslim) di zaman Nabi, berkata "Hai keluarga Islam, sabar itu kemuliaan. Kalah itu kehinaan. Kemenangan adalah kesabaran". Maka itulah sebabnya Allah menganjurkan kesabaran kepada orang-orang Islam dimana Firman Allah dalam Al-Quran (S.Al-Anfaal 46):

"Bersabarlah kamu sekalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar".

Maka didalam menghadapi kesulitan apapun juga, maka satu-satunya kekuatan yang dapat bertahan ialah "sabar". Demikian Allah telah memberikan jaminan untuk bersama-sama orang yang sabar, baik di dunia terlebih-lebih di akhirat nanti, Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar akan kemuliaan.

3. Syukur

Untuk mencapai tingkat dalam kebaikan akkhlak, kaum shufi mengajarkan sifat "syukur" atau berterima kasih kepada Tuhan atas segala nikmat pemberian Allah. Orang yang tidak tahu bersyukur/berterima kasih atas nikmat yang diperolehnya, maka kesusahanlah yang akan menyertainya. Syukur itu adalah suatu sifat yang terpuji dan dipuji oleh Allah, sedang "khufur" atau anti Tuhan tidak mensyukuri nikmat Tuhan adalah sifat yang tidak disukai Allah dan adalah azab yang sangat pedih.

Adapun arti syukur, ialah keadaan seseorang mempergunakan nikmat yang diberikan oleh Allah itu kepada kebajikan. Misalnya tangan digunakan untuk mencari rezeki yang halal. Akal digunakan untuk mencari ilmu yang berguna bagi sesama makhluk. Diri untuk beribadat kepada Tuhan dan berbakti kepada masyarakat dan tanah air. Menyalahgunakan segala nikmat yang diberikan oleh Tuhan kepada seseorang, berarti kejahatan besar dan kekafiran.

4. Ridha Bilqadha 

Manusia merasa sukar menerima keadaan-keadaan yang biasa menimpa dirinya, seperti: kemiskinan, kerugian, kehilangan barang, pangkat, kedudukan, kematian dan lain-lain yang dapat mengurangi kesenangannya.

Yang dapat bertahan dalam kesukaran-kesukaran seperti itu hanyalah orang-orang yang telah mempunyai sifat "ridha" artinya rela menerima dengan apa yang telah ditentukan dan ditakdirkan Tuhan kepadanya. Rela berjuang atas jalan Allah, rela menghadapi segala kesukaran, rela membela kebenaran, rela berkorban harta, pikiran, jiwa sekalipun. Semua itu dipadang oleh kaum shufi sebagai sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang bernilai tinggi bahkan dianggap sebagai ibadah semata-mata menuntut keridhaan Allah. Karena kerelaan mereka semata-mata karena Allah. 

Sabar, syukur dan ridha adalah tiga sifat yang terpuji yang sangat bernilai tinggi, dapat membawa orang kepada ketinggian budi pekerti dan akhlak dan merupakan kekuatan yang dapat menolong untuk berkemauan keras, berjiwa besar dan bertanggung jawab. Maka oleh karena itu, orang-orang yang memiliki didikan Tasawwuf dapatlah dipercaya bahwa ia tidak akan menyalahgunakan nikmat dan amanat Allah yang dipercayakan kepadanya. Dan oleh karena itu secara pikiran yang sehat tidaklah masuk akal kalau kaum-kaum Tasawuf itu dianggap sebagai orang yang sesat, pandir atau sebagai orang yang hanya tinggal berdoa saja, tak punya ikhtiar atau apatis dan lain sifat-sifat yang rendah budi sebagaimana ejekan-ejekan atau kecaman-kecaman yang terdengar dari pihak-pihak yang menentang Ilmu Tasawuf. Sebagaimana ajaran Tasawwuf ialah mendidik seseorang, pertama-tama dengan perbaikan akhlak dengan lebih dahulu membekali murid-muridnya sifat-sifat yang terpuji seperti: sabar, syukur, dan ridha untuk membawa murid-muridnya setingkat ke tingkat yang lebih tinggi, dari Muslim biasa ke tingkat Mukminin, naik ke tingkat Muhsinin, ke tingkat Muttaqin ke tingkat Mukarrabin, ketingkat arifin mengenal dan merasai Tuhan yang sesungguhnya. Dengan sifat-sifat yang terperinci itu, mereka memasuki latihan-latihan jiwa dan mujahadah dengan suatu sistem yang dinamakan: Takhalli, mensuci bersihkan diri dari segala dosa lahir dan dosa batin. Tahalli, yang berarti mengisi diri dengan segala sifat-sifat yang terpuji, Tajalli, memperoleh hakekat kenyataan Tuhan karena suci bersihnya hati mereka mencintai Tuhannya. Zinnun seorang Ahli Tasawwuf yang ternama mengatakan "Manlam Yasuk Lam Ya'Rif", Barang siapa yang belum merasakan, maka ia belum mengetahuinya".


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cara Membuka Tabir (Hijab) Yang Membatasi Diri Dengan Tuhan"

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan santun dan sesuai tata krama kebijakan Google