Kisah Pertumbuhan Dan Perkembangan Ilmu Tasawwuf "Kerohanian"


Caratotal.com - Kita kembali menguraikan golongan Zahid. Bahwa kaum rohaniawan atau kaum shufi pada masa abad pertama dan abad kedua, mereka terkenal dengan sebutan: Nasik atau Nuzzak, Zahid atau Zuhhad, Abid atau Ubbad dan sebagainya.

Mula-mulanya hidup kerohanian mereka adalah sebagai kaum muslimin yang hanya semata-mata mengendalikan jiwa dalam menempuh hidup mencari keridhaan Allah supaya tidak terperdaya oleh pengaruh-pengaruh kebendaan. Lama kelamaan, hidup kerohaniaan mereka menjadi suatu alat untuk mencapai tujuan yang lebih murni, bahkan lebih hebat dan mendalam yaitu hendak mencapai hakeka Ke-Tuhanan dengan mengenal Allah sebenar-benarnya, melalui Riadha (Latihan) dan Mujahadah (Perjuangan) musyahadah (Menyaksikan) dan mukasyafah (Terbuka Hijab).

Usaha mereka itu dari setingkat demi setingkat “Takhalli” mengosongkan diri segala sifat-sifat yang tercela, kemudian mengisinya kembali dengan sifat-sifat terpuji “Tahalli” dan sesudah itu barulah beroleh kenyataan Tuhan “Tajalli”. Sejak itulah tumbuh bentuk-bentuk kehidupan kerohanian dengan melalui tata cara (sistim) atau falsafat ke-agamaan yang dapat membawa manusia mendekatkan diri kepada Tuhan, sebagai kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Dengan jalan ini maka tata cara tersebut menjadi suatu "ilmu" yang dinamakan "Ilmu Tasawwuf" awal mula pertumbuhannya pada abad ketiga atau abad kesembilan Masehi.

Dalam pada itu, tokoh-tokoh shufi terdapat perbedaan-perbedaan dalam menempuh jalan "TAREQAH" atau sistem dalam melakukan Riadha atau latihan-latihan Shufinya yaitu mencari hubungan dengan Tuhan untuk mencapai Hakekat ketuhanan. Lanjutannya maka tumbuhlah "Thareqat".


Mereka mulai merasa perlu menentukan Tarekat (Sistem) pelajaran-pelajaran yang diterima oleh murid dari gurunnya dengan gelar Shek (Ketua) atau Mursyid (Petunjuk Jalan). Tarekat-tarekat suluk itu laksana "Pesantren" kita di Indonesia pada masa-masa sebelum terbentuknya madrasah-madrasah.

Dengan perkembangannya kembali di tanah air kita pengajian-pengajian pesantren, akan memberi harapan bagi generasi muda kita, akan dapat diselamatkan dari kerusakan akhlak pada suatu tingkat masyarakat yang lebih baik.

Akan dapatlah dimengerti bahwa Hidup kerohaniaanlah yang dapat menyelamatkan manusia dari siksaan kebendaan.

Guru-guru tarekat itu telah mengadakan usaha percobaan dengan beberapa tata cara dan kaifat. Dalam usaha seperti itu banyak salik yang berhasil mendapat " natijah" atau faedah dari tata cara dan kaifat itu.

Pelajaran di dalam "tarekat" itu selain mempelajari Syariat agama, maka yang sangat penting di dalamnya ialah dengan perantaraan guru mempelajari zikir dan wirid tertentu didalam menuju jalan mengenal Allah. Masing-masing guru atau Mursyid mempunyai sistem sendiri-sendiri.

Tarekat-tarekat yang sangat terkenal dan yang telah disepakati oleh Jamhuruf Ulama ada 41 Tarekat antara lain ialah : Qadariah, Naksa Bandiyah, Ghazaliyah, Halwatiah dan lain-lain.

Diantara mereka ada yang menempuh jalan latihan-latihan jiwa dari tingkat yang paling rendah yang dinamakan Nafsu amarah, ketingkat nafsu laumah terus ketingkat nafsu mutmainnah, ketingkat nafsu mulhamah ketingkat nafsu Radhia ketingkat nafsu murdiyah terus ketingkat nafsu kamaliyah. Dalam pada itu ada pula yang menempuh jalan didikan 3 tingkat yang dalam Ilmu Tasawwuf disebutkan: Takhalli, Tahalli, dan Tajalli yang masing-masing berarti: mengosongkan diri dari sifat-sifat yang tercela, kemudian mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, sesudah itu barulah beroleh "tajalli" kenyataan Tuhan.

Dan ada pula yang menempuh dengan jalan zikir, yang senantiasa mengicapkan zikir yang dinamakan Mulazamatu fi zikiri, senantiasa mengingat Tuhan, dalam keadaan mana seseorang dapat melihat Tuhannya dengan mata hatinya (ainun basirah) yang demikian, itu didasarkan atas pernyataan Ali Bin Abi Thalib kepada Rasullulah: "Manakah Tarekat yang sedekat-dekatnya mencapai Tuhan"? yang dijawab oleh Rasulullah. "Tidak lain dari pada zikir kepada Allah".

Bahwa tujuan terakhir dan tujuan pokok dari pada semua pelaksanaan amal ibadah ialah mengenal Tuhan yang sebenar-benarnya yang dalam istilah Tasawwuf dinamakan "Ma'rifat".

Maka untuk mengetahui itu, Ilmu kebatinanlah yang merupakan kunci kearah mengenal Tuhan yang sebenar-benarnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Pertumbuhan Dan Perkembangan Ilmu Tasawwuf "Kerohanian""

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan santun dan sesuai tata krama kebijakan Google