Mengenal Diri Sendiri Sebagai Kunci Untuk Mengenal Tuhan

Caratotal.com - Ajaran-ajaran yang terdahulu dalam blog ini mengenai hidup kerohanian ke arah mencapai hakekat Ketuhanan, kiranya sudah banyak yang diketahui dan mungkin sudah ada yang berbekas kepada diri setingkat demi setingkat.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa ajaran Ahwal (sesuatu perolehan dengan karunia) dan Maqamat (sesuatu perolehan yang diusahakan) yang semuanya itu ditujukan untuk memperbaiki akhlak. Sedang tujuan perbaikan akhlak, ialah untuk membersihkan Qalbu yang berarti mengosongkan diri dari sifat-sifat yang tercela (Takhalli) kemudian mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji (Tahalli) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (Tajalli). Dengan demikian maka dapatlah dipahami dipahamkan bahwa jalan untuk mengenal Tuhan itu, tidak dapat ditempuh sekaligus, tetapi sesuai keadaan masing-masing pribadi, ia harus menempuh secara bertingkat.

Pada tingkat untuk memasuki Ilmu hakekat dan Ma'rifat, berarti memasuki suatu jalan pengetahuan yang tujuannya, mengenal sesuatu itu dengan sungguh-sungguh, bahwa siapa manusia itu dan siapa yang menjadikannya dan siapa yang menciptakan sekalian itu.

Ilmu Tasawwuf meringkaskan jalan pengetahuan ini dengan mendasarkan sabda Rasulullah:

"Barang siapa yang mengenal dirinya, maka niscaya ia akan mengenal Tuhannya".

Mengenal Diri Sendiri

Langkah pertama untuk mengenal diri sendiri ialah mengetahui diri itu tersusun dari bentuk-bentuk lahir (yang disebut badan atau jasad) dan bentuk-bentuk bathin (yang disebut qalbu atau jiwa). Yang dimaksud dengan Qalbu itu bukanlah yang segumpal daging yang berada disebelah kiri badan di bawah susu (yang dikatakan jantung). Tetapi ialah Roh suci dan berpengaruh dalam tubuh dan ialah yang mengatur jasmani dan segenap anggota badan. Dialah hakekat Insan (yang disebut diri yang sebenarnya diri). Dialah yang bertanggung jawab dan dia pulalah yang dipuji atau disiksa oleh Allah.


Untuk meneliti dan mengenal diri sendiri itu, maka jasad dapat dimisalkan suatu kerajaan, dan Roh sebagai rajanya yang berkuasa dan dialah yang mengatur jasmani. Adapun jasmani adalah sebagai kerajaan dalam bentuk Alamuasyahadah atau alam nyata.

Seluruh badan jasmani akan hancur binasa setelah mati, tetapi hakekat roh dan jiwa tidak akan mati, ia tetap tinggal dalam Ilmu Allah. Dan adapun Rohani/Jiwa adalah sebagai Raja dalam bentuk Alam ghaib, maksudnya bahwa Roh/Jiwa itu adalah ghaib, ia keadaannya tidak terpisah-pisah, tidak terbatas oleh waktu dan ruang, tidak tentu tempatnya dalam suatu bagian tubuh, oleh karena itu maka setiap orang memerintahkan atas kerajaan kecil dalam dirinya sendiri. Sungguh benar sekali istilah yang menyebutkan bahwa "manusia itu adalah mikromos" atau dunia kecil dalam dirinya sendiri.

Sebagian orang berpendapat bahwa hakekat Roh atau Qalbu itu dapat dicapai oleh seseorang dengan memejamkan kedua matanya serta melupakan segalanya yang ada di sekitarnya, kecuali peribadinya. Dengan cara demikian akan dapat juga kilauan dari alam abadi kepada peribadinya (dalam mengenal dirinya). Tetapi bagaimanapun juga segala pertanyaan yang mendalam tentang hakekat Roh yang sesungguhnya, tidak diizinkan oleh Allah Yang Maha Esa. Didalam Al-Quran Allah berfirman :

"Mereka itu bertanya kepada Engkau Muhammad, tentang Roh, katakanlah bahwa Roh itu urusan Tuhanku, tidak kamu diberi pengetehuan melainkan sedikit saja". (Surah Isra 85)

Apabila seseorang bertafakkur atas dirinya sendiri, maka ia akan dapat mengetahui bahwa dirinya itu pada masa dahulunya itu "tidak pernah ada".

Firman Allah:

"Tidaklah manusia itu ingat bahwa kami menjadikannya dahulunya sedang ia belum ada suatu apapun".

Kemudian manusia itu akan mengetahui bahwa ia sebenarnya dijadikan dari setetes air mani yang tidak mempunyai akan sedikitpun, tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepada dan sebagainya. Dari sinilah manusia akan mengetahui dengan terang dan nyata, bahwa tingkat kesempurnaan yang ia dapat capai bukanlah ia yang membuatnya, karena sehelai rambutpun manusia itu tak akan sanggup membuatnya.

Dengan jalan fikiran tersebut diatas maka manusia itu dapat menemukan dirinya dalam kejadian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan kekuasaan dan kasih-sayangnya Tuhan yang menjadikan. Dan apabila manusia itu berfikir jauh maka ternyata ia didalam kehidupannya akan menghajatkan berbagai macam keperluan seperti: makan, pakaian, perumahan, dan sebagainya yang kesemuanya itu telah tersedia lengkap di dalam muka bumi ini.

Disini manusia menjadi sadar akan sifat Rahman dan Rahimnya Allah yang begitu besar dan luasnya. Demikianlah alam dunia ini yang diciptakan oleh Allah swt penuh dengan keajaiban-keajaiban rangka jasad sebagai bukti kekuasaan dan kebijaksanaannya dan penuh pula dengan berbagai alat kelengkapannya yang dibuatnya sebagai tanda kasih sayangnya, guna berbagai keperluan hidup manusia, maka oleh karena itu manusia akan mengetahui bahwa Allah itu "ADA". Oleh karena itu benar-benar bahwa dengan penelitian dan pengenalan diri sendiri akan menjadi kunci bagi pengenalan Allah.

Demikianlah antara lain yang dikutip dalam kita Kimyaussaadah oleh Al-Ghazali.


Mengenal Allah 

Bagian yang penting dalam mengenal Allah, yaitu datangnya dari perbuatan-perbuatan, kita mempelajari dan meneliti serta memikirkan keadaan diri sendiri, yang memberikan kepada kita kekuatan, kepandaian dan mencintai ciptaannya. Demikianlah alam dunia yang diciptakan penuh dengan keajaiban-keajaiban rangka jasad sebagai bukti kekuasaan dan kebijaksanaannya sudah penuh pula dengan berbagai alat kelengkapan yang dibuatnya sebagai tanda kasih sayangnya guna berbagai keperluan hidup manusia, maka oleh karena itu manusia akan mengetahui bahwa Allah itu "ADA". Oleh sebab itu benar-benar bahwa dengan penelitian dan pengenalan diri sendiri akan menjadi kuncinya bagi mengenal Allah

Sifat-sifat manusia bukan hanya menjadi gambaran dari sifat-sifat Allah, tetapi juga ragam adanya jiwa manusia membawa ke-insyafannya kepada pengertian adanya Allah. Maksudnya bahwa kedua-duanya yaitu Allah dan Roh adalah ghaib, tidak terpisah-pisah, tidak terbilang, tidak berupa dan tidak berbentuk, tidak berwarna dan berukuran.

manusia mendapatkan kesukaran dalam menerima gambaran tersebut tadi yang menyebutkan seperti di atas, Tetapi kesukaran-kesukaran itu dirasakan oleh fikiran-fikiran itu sehari-hari seperti , marah, sakit, gembira dan cinta, kesemuanya itu merupakan faham fikiran dan tidak bisa diketahui oleh otak, oleh karena bentuknya dan ukurannya. Seperti halnya telinga tidak bisa mengenal warna, mata tidak bisa mengenal suara dan begitu pula dalam mengartikan kenyataan-kenyataanp pokok yakni Tuhan dan Roh, kita sendiri hanya dapat sampai pada batas-batas yang dapat dicapai oleh akal fikiran kita lebih dari itu. Akal fikiran tidak sanggup lagi memikirkannya sebegitu jauh, betapapun juga kita dapat melihat bahwa Allah itulah yang mengatur alam semesta dan ia adalah tidak mengenal ruang dan waktu, tidak mengenal bentuk dan ukuran, memerintah segenal perkara yang demikian keadaannya.

Sebagaimana yang telah diuraikan terdahulu mengenai "ROH" tidak mempunyai tempat tertentu dalam suatu bagian badan, tidak terpisah-pisah, tidak mengenal bentuk dan ukuran ia memerintahkan "JASAD".

Demikianlah Allah tidak mengenal ruang dan masa tidak mengenal bentuk dan ukuran, ia memerintahkan Alam semesta.
Itulah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Besar dan Maha Agung. Demikianlah antara lain kutipan dari Kitab "Kimyaussaadah" oleh Al-Ghazali.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengenal Diri Sendiri Sebagai Kunci Untuk Mengenal Tuhan"

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan santun dan sesuai tata krama kebijakan Google